Membicarakan Korupsi – 1

Saat melihat film detektif, bagian yang paling dinanti adalah saat si detektif mengungkap si pelaku beserta metode kejahatan yang dilakukan. Selain kagum pada intuisi dari si detektif, kecerdasan pelaku kejahatan juga mengundang kekaguman. Semakin kreatif si penjahat semakin menarik kisah sang detektif. Koruptor pun bisa diilustrasikan sebagai orang jahat yang ‘cerdas’. Orang yang mampu mengelabui rekan kerja, mendayagunakan kekuatan dan jabatan, kesempatan, dan memaksimalkan kemampuan untuk menutupi aksinya.
Kisah korupsi akan membosankan jika penonton bisa menebak dengan cepat motif si koruptor. Disini segitiga fraud terlalu mainstream. Motif si koruptor terlalu sederhana jika hanya dari adanya kesempatan, tekanan, dan rasionalisasi. Untungnya aksi koruptor di Indonesia lebih kaya bumbu. Koruptor umumnya adalah orang yang memiliki jabatan, berpendidikan, dianggap baik di mata masyarakat. Mereka umumnya sudah memiliki kekayaan yang ‘cukup’ di atas rata-rata masyarakat Indonesia.

Politiklah yang membuat korupsi menjadi episode seru. Sistemlah yang menjadikan korupsi sebagai episode yang tidak pernah habis ditonton masyarakat. Terakhir faktor manusialah yang menjadikan korupsi kian ‘kreatif’ dan berbeda tiap episodenya. Masyarakat disuguhi tontonan menarik selama beberapa tahun ini. Setelah episode BLBI berlanjut ke episoe Bank Century tidak lama berselang muncul episode korupsi di Kemenag. Terkini adalah episode hambalang dan episode simulator SIM. Pertanyaan masyarakat tentu kapan semuanya akan berakhir dan berganti dengan cerita kesuksesan pengelolaan pemerintahan.
Korupsi bisa dibicarakan dari banyak sisi. Bidang politik, hukum, sosiologi, ekonomi, bahkan akuntansi. Bagi orang akuntansi seperti saya, politik terlalu memusingkan, hukum terlalu kaku, sosiologi terlalu abstrak, ekonomi terlalu asumtif. Akuntansi memberikan sisi paling menarik dari semua. Membosankan jika akuntansi hanya berbicara laporan keuangan semata. Banyak aspek menarik dari akuntansi yang lebih ‘dinamis’ contohnya dengan membahas korupsi. Untungnya cabang akuntansi forensik mengakomodir ‘hak’ akuntansi untuk berbicara lebih banyak tentang korupsi.
Melalui akuntansi dibahas aspek teknis bagaimana korupsi dilakukan, prosedur apa yang dilanggar, berapa kerugian akibat korupsi, dan mengapa korupsi bisa terjadi. Semua itu dibahas dalam akuntansi forensik. Meski sebenarnya korupsi hanya sebagian kecil dari apa yang akan dipelajari dalam akuntansi forensik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s