Pengantar Corporate Governance – Storytelling

Tea and Textbooks

Storytelling merupakan salah satu metode pengajaran yang menarik. Mendengarkan rangkaian cerita akan jauh lebih berkesan daripada mendengar penjabaran sebuah teori. Storytelling memaksa sang pengajar mengaplikasikan teori dalam konteks cerita. Peserta didik didorong untuk membuat sintesis cerita dan menginterpretasikan sendiri pelajaran yang didapatnya. Dengan begitu kelas akan lebih menarik dan tidak monoton.

Tulisan ini berisi contoh storytelling dalam Corporate Governance. Ada beberapa kisah kejahatan finansial yang diceritakan melalui sudut pandang Corporate Governance. Alih-alih menjelaskan tentang definisi, kuliah pengantar bisa digantikan cerita nyata. Cerita ini diambil dari buku teks Corporate Governance tulisan Robert A.G. Monks. Semoga bisa memberikan gambaran apa itu Corporate Governance.

 #KISAH A

Seorang CEO yang sangat sukses menemui dewan direksi. Dia menginginkan kontrak kerja. Bukan permintaan yang normal dan wajar bahkan sangat tidak biasa. Sepertiga dari CEO perusahaan Fortune 500 memiliki kontrak tertulis, kontrak menunjukan adanya negosiasi yang mengarah kepada kesepakatan lama kontrak dan paket remunerasi. Yang membuat sedikit tidak biasa adalah sang CEO meminta kontrak setelah tiga tahun bekerja tanpa kontrak. Yang membuat sangat tidak biasa adanya bagian kontrak yang menyatakan bahwa dugaan kejahatan tidak bisa dijadikan dasar pemutusan kontrak kecuali jika kejahatan itu secara langsung dan secara material merugikan perusahaan.

Hah?

Mungkin kita berpikir dewan direksi yang dihadapkan pada kontrak tersebut akan bertanya-tanya. Salah satu mungkin akan bertanya, “Mengapa sekarang – mengapa anda memerlukan kontrak sekarang ketika sebelumnya anda tidak memerlukan kontrak?” Yang lain mungkin akan bertanya, “Apa yang sebenarnya dimaksud dengan kata kejahatan -  apa yang ingin anda sampaikan kepada kami?

Namun tidak satupun anggota dewan direksi yang bertanya. CEO tersebut pada kenyataannya sangat sukses. Menghasilkan banyak uang. Beberapa direksi memperoleh side payment yang cukup besar dari kesepakatan-kesepakatan yang dibuat perusahaan. Direksi dari Tyco menandatangi kontrak tersebut.

#KISAH B

Dewan direksi di perusahaan sukses lainnya sedang mendengarkan presentasi mengenai “special purpose entity” yang memungkinkan laporan keuangan perusahaan nampak lebih baik dengan mengeluarkan utang-utang perusahaan dari neraca. Namun ada satu masalah kecil. Kesepakatan mengenai “special purpose entity” ini melanggar aturan konflik kepentingan perusahaan karena membolehkan insider untuk berada pada kedua pihak dalam transaksi. Dewan direksi diminta untuk tidak mengindahkan aturan tentang konflik kepentingan tersebut.

Hah?

Mungkin kita berpikir bahwa dewan direksi yang dihadapkan pada proposal tersebut akan mengajukan beberapa pertanyaan. “Mengapa bukan pihak luar perusahaan saja yang menjalankannya?” “Adakah sesuatu yang tampak bagus di kertas atau adakah keuntungan aktual?”

Namun dewan tidak menanyakan apapun. Perusahaan tersebut, seperti yang disebut di atas, sangatlah sukses. Menghasilkan banyak uang. Beberapa direksi memperoleh side payment yang cukup besar dari kesepakatan-kesepakatan yang dibuat perusahaan. Direksi dari Enron sepakat dengan pengecualian aturan. Tiga kali secara terpisah.

 #KISAH C

Lulusan dari United States Military Academy di West Point, tempat yang mengajarkan prinsip “duty, honor, country,” pensiun dari militer sebagai jenderal dan bekerja untuk perusahaan besar dan sukses. Dia berpartisipasi dalam tur untuk melihat operasi perusahaan sebagai analis keamanan. Tur tersebut termasuk mengunjungi ruang perdagangan sekuritas palsu dimana sekretaris perusahaan seolah-olah sedang melakukan negosiasi transaksi, melihat komputer yang tidak terhubung dengan apapun dan berbicara dengan pekerja lain melalui telepon. Dia kemudian mengaku mengetahui bahwa ruang perdagangan sekuritas itu palsu. Dia tidak mengatakan apapun.

Hah?

Tom White, mantan jenderal, dibayar lebih dari 32 juta dollar oleh Enron pada tahun tersebut.

 #KISAH LAINNYA

  • Seorang CEO meminta dewan direksi untuk pinjaman sebesar lebih dari 400 juta dollar. Berdasarkan paparan publik, utang itu akan digunakan untuk membayar utang yang telah diamankan dengan saham CEO itu dan pinjaman tersebut digunakan untuk tujuan bisnis pribadi. Direksi WorldCom menyetujuinya.
  • Seorang CEO memberitahu direksi bahwa ada satu akuisisi yang tidak sesuai. Dia menawarkan untuk mengeluarkannya dari pencatatan dengan membelinya seharga satu dolar. Direksi Hollinger menyetujui permintaan CEO tersebut.
  • Seorang CEO mengatakan kepada dewan direksi bahwa dia ingin mengambil porsi perusahaan privat untuk dirinya sendiri, dengan dia sebagai CEO di kedua perusahaan, memperoleh bayaran secara terpisah. Mereka sepakat. Dia kemudian menjual perusahaan privat miliknya kembali ke perusahaan publik, memperoleh tidak hanya keuntungan tetapi juga investment banking fee. Direksi Warnaco menyetujuinya.
  • Seorang CEO melakukan panggilan telepon kepada investor institusional yang sepakat untuk menolak proposal merger yang diajukan sang CEO, dia mengingatkan mereka bahwa perusahaannya memiliki bisnis yang signifikan dengan perusahaan induk investor institusional. Deutsche Asset Management merubah suara mereka.

Apa yang salah disini? Bagaimana bisa orang yang berbeda di posisi yang berbeda-beda membuat banyak keputusan buruk? Bagaimana bisa corporate governance yang memiliki konsep bagus justru menjadi sumber skandal perusahaan, berita koran, dan juga pelajaran di sekolah bisnis?

Menarik bukan? Kisah singkat ini membuat kita bertanya-tanya dan berusaha mengkritisi keadaan. Storytelling bisa mendorong peserta didik untuk membuat pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban besar. Mampu memunculkan pertanyaan menurutku adalah salah satu indikator keberhasilan pengajaran. Bertanya adalah skill, lebih jelasnya bertanya adalah transferable skill. Pengajar berkewajiban untuk menyalurkan skill ini ke peserta didik. Menghilangkan rasa enggan dan rasa malas untuk bertanya. Mari dicoba! Semoga tulisan ini bermanfaat.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s